KEUTAMAAN DALAM MENUNTUT ILMU

Nama: Muhammad Fadhlan Siregar
Kelas: XII IPS 1

Dalam kehidupan sehari-hari, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memiliki peran yang sangat penting untuk memudahkan berbagai aktivitas dan meningkatkan kualitas hidup. Namun, pemanfaatan IPTEK harus selalu diiringi dengan sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan islam. Berikut ini adalah pandangan tentang bagaimana seharusnya kita memanfaatkan IPTEK, bersikap terhadap praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di dunia kerja, serta memaknai ilmu yang tidak diamalkan.

A. Memanfaatkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Kehidupan Sehari-hari

Di era modern ini, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari telepon pintar, internet, hingga berbagai alat rumah tangga canggih, IPTEK telah membuat hidup kita lebih efisien dan produktif. Namun, sebagai seorang Muslim yang menjunjung nilai-nilai islam, pemanfaatan IPTEK perlu dilakukan dengan bijak dan sesuai dengan tuntunan agama.

Pertama, memanfaatkan teknologi untuk kebaikan dan kemaslahatan adalah prinsip dasar dalam penggunaannya. Teknologi bisa kita gunakan untuk berbagai kegiatan positif, seperti belajar melalui platform daring, bekerja secara lebih efisien, atau menyebarkan informasi yang bermanfaat. Namun, kita juga harus menjauhkan diri dari penggunaan yang negatif atau sia-sia, seperti menyebarkan berita hoaks, fitnah, atau menghabiskan waktu berlebihan di media sosial tanpa tujuan yang jelas. Rasulullah SAW menekankan pentingnya menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat dan meninggalkan yang tidak berguna, karena waktu adalah bagian dari nikmat Allah yang perlu kita syukuri dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Kedua, teknologi bisa menjadi alat untuk terus meningkatkan ilmu pengetahuan. Dengan adanya internet dan berbagai aplikasi pembelajaran, kita bisa memperoleh ilmu dari berbagai sumber, memperdalam pemahaman, dan mengasah keterampilan kapan saja dan di mana saja. Namun, di sisi lain, kita harus tetap kritis dalam memilah informasi yang kita dapatkan agar tidak tersesat pada sumber yang kurang dapat dipercaya. Sesuai dengan ajaran islam, dalam mencari ilmu, kita dianjurkan untuk mencari sumber-sumber yang sahih dan berlandaskan pada kebenaran. Selain itu, teknologi juga memungkinkan kita untuk belajar dari berbagai ulama dan cendekiawan Islam melalui ceramah daring atau aplikasi Islami, yang bisa memperkuat iman dan pemahaman agama kita.

Ketiga, dalam memanfaatkan teknologi, bertanggung jawab atas penggunaannya adalah hal yang sangat penting. Tanggung jawab ini meliputi menjaga data pribadi, menghormati privasi orang lain, dan tidak menyalahgunakan teknologi untuk merugikan orang lain. Misalnya, saat menggunakan media sosial, kita harus berhati-hati dalam berbagi informasi dan menjaga agar konten yang kita unggah tidak mengandung unsur fitnah atau kebencian. Islam mengajarkan kita untuk menghindari ghibah (menggunjing) dan fitnah, serta untuk selalu menjaga kehormatan dan hak orang lain. Oleh karena itu, tanggung jawab dalam pemanfaatan teknologi menjadi cerminan akhlak yang baik dalam kehidupan kita sehari-hari.

Selain itu, memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk menambah amal kebaikan juga sangat dianjurkan. Kita bisa menggunakan teknologi untuk berdakwah, berbagi informasi tentang Islam, atau menggalang donasi secara online bagi yang membutuhkan. Teknologi telah memudahkan kita untuk berbuat kebaikan, bahkan dengan cara yang sederhana, seperti membagikan kata-kata yang inspiratif atau mengingatkan orang lain untuk melaksanakan sholat. Dengan demikian, teknologi bisa menjadi salah satu cara bagi kita untuk menambah pahala jika dimanfaatkan dengan benar dan sesuai dengan ajaran agama.

Lalu, ada ayat yang berkaitan tentang Memanfaatkan Ilmu untuk Kebaikan dan Menghindari Keburukan dari Q.S. Al-Isra’ [17]: 36 yang berbunyi:

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”

Ayat ini mengingatkan kita untuk bertanggung jawab atas segala yang kita pelajari dan lakukan, termasuk dalam penggunaan teknologi. Mengikuti hal yang tidak diketahui kebenarannya atau menyebarkan informasi yang tidak benar adalah tindakan yang tidak sesuai dengan prinsip Islam.

Dalam keseluruhan pemanfaatan IPTEK ini, nilai-nilai yang diajarkan, seperti jujur, amanah, tanggung jawab, dan kejujuran, harus menjadi pedoman utama. Ilmu pengetahuan dan teknologi bukanlah tujuan, melainkan alat yang bisa kita manfaatkan untuk kebaikan diri, masyarakat, dan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat-Nya.

B. Sikap Terhadap Praktik KKN dalam Pencarian Kerja

Dalam dunia kerja, khususnya saat proses pencarian pekerjaan, tidak jarang kita menemui praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN). Praktik ini biasanya muncul ketika seseorang menggunakan pengaruh, relasi, atau “orang dalam” untuk mendapatkan posisi pekerjaan meskipun ia tidak memenuhi kualifikasi yang diperlukan. Hal ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan keadilan, kejujuran, dan amanah (tanggung jawab). Dalam ajaran agama islam, praktik KKN dianggap sebagai perbuatan zalim karena dapat merugikan orang-orang yang lebih berhak dan memenuhi kualifikasi yang diperlukan.

Ketika berhadapan dengan praktik KKN, sikap yang tepat adalah menolak keterlibatan dalam praktik yang tidak adil ini. Meskipun peluang pekerjaan yang didapat melalui hubungan bisa menggiurkan, penting bagi kita untuk mengingat bahwa pekerjaan adalah amanah dari Allah SWT. Menjalankan pekerjaan dengan tidak memenuhi kualifikasi yang semestinya akan membawa banyak dampak negatif, baik bagi diri sendiri maupun organisasi atau perusahaan. Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur'an untuk berlaku adil dan tidak merampas hak orang lain (QS. Al-Maidah [5]:8). Maka, meskipun situasi menawarkan jalan pintas, menolak praktik KKN adalah cara untuk menjaga integritas diri dan menunjukkan akhlak yang baik sesuai ajaran Islam.

Selain itu, kita perlu menjunjung tinggi profesionalitas dan kelihaian dalam dunia kerja. Ketika seseorang memperoleh pekerjaan tanpa keahlian yang memadai, maka kualitas kerja dan produktivitasnya cenderung rendah, yang pada akhirnya berdampak buruk bagi perusahaan atau instansi tersebut. Prinsip amanah dalam Islam berarti kita harus mampu menjalankan tanggung jawab dengan baik, sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang kita miliki. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga kita harus memastikan bahwa setiap pekerjaan yang kita ambil bisa kita jalankan secara maksimal dengan kompetensi yang sesuai. 

Memberi nasihat kepada mereka yang terlibat dalam praktik KKN juga merupakan salah satu sikap yang bisa dilakukan, jika kita berada dalam posisi yang memungkinkan. Dalam Islam, kita diajarkan untuk selalu mengingatkan saudara kita yang mungkin tergoda melakukan perbuatan tercela. Dengan cara yang baik dan bijaksana, kita bisa memberi pengertian kepada mereka bahwa cara mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai aturan adalah hal yang dilarang oleh agama, dan lebih baik mereka berusaha mencari pekerjaan sesuai kemampuan yang dimiliki. Menasihati dengan lembut, sesuai dengan tuntunan akhlak yang baik, dapat membantu mengingatkan mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Praktik KKN tidak hanya mengganggu proses rekrutmen yang adil, tetapi juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat secara luas. Ketika seseorang diangkat berdasarkan hubungan, bukan karena kompetensi, ia mungkin gagal menjalankan tugas dengan baik, yang akhirnya merugikan orang banyak. Ini adalah salah satu bentuk kedzaliman yang dilarang dalam Islam, dan kita dianjurkan untuk menghindarinya. Dengan menolak praktik KKN dan berusaha mendapatkan pekerjaan dengan cara yang halal dan adil, kita bisa menjadi pribadi yang berintegritas dan berpegang pada nilai-nilai islam.

Ada juga ayat al-qur'an yang menjelaskan tentang hal KKN ini, yaitu sebagai berikut:


Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kalian menetapkannya dengan adil…

Ayat ini menjelaskan perintah Allah untuk menyampaikan amanat atau tugas kepada yang berhak dan berkompeten, serta menerapkan keadilan. Dalam konteks pekerjaan, orang yang diberikan amanah haruslah orang yang memiliki kemampuan dan memenuhi kualifikasi yang diperlukan.

Oleh karena itu, sikap tegas terhadap praktik KKN sangat penting dalam menjaga keadilan dan keharmonisan dalam masyarakat. Dengan menegakkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan profesionalitas, kita tidak hanya menjaga kualitas diri sendiri, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap dunia kerja dan masyarakat secara umum. Islam mengajarkan kita bahwa rezeki yang halal dan diperoleh dengan cara yang benar akan membawa keberkahan dalam hidup.

C. Menyikapi Orang yang Memiliki Ilmu tetapi Tidak Mengamalkannya

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering bertemu dengan orang-orang yang memiliki ilmu yang cukup luas, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan lainnya, namun mereka kesulitan untuk mengamalkan ilmu tersebut dalam keseharian. Fenomena ini dapat terjadi karena berbagai alasan, seperti kurangnya motivasi, keinginan yang kuat untuk mendapatkan pengakuan, atau bahkan kelemahan dalam mempertahankan konsistensi berbuat baik. Dalam pandangan Islam, ilmu sejatinya bukan hanya untuk disimpan atau dipelajari saja, tetapi untuk diterapkan dalam kehidupan sebagai bukti nyata dari iman dan komitmen kita pada kebaikan.

Memiliki ilmu tanpa mengamalkannya seringkali disamakan dengan “pohon tanpa buah” – tampak besar dan menjanjikan dari luar, tetapi tidak memberikan manfaat nyata. Islam sangat menekankan pentingnya menjadikan ilmu sebagai sarana untuk berbuat baik dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ilmu yang diamalkan tidak hanya membawa manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain di sekitarnya. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengecam orang-orang yang memiliki ilmu tetapi tidak menggunakannya untuk kebaikan. Sebagai contoh, QS. Al-Baqarah [2]: 44 menyebutkan: 

“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” Ayat ini memperingatkan tentang bahaya mengetahui kebenaran tanpa mengamalkannya.

Selain itu, ilmu yang tidak diamalkan dapat mengakibatkan hilangnya keberkahan dari ilmu itu sendiri. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu namun ilmunya tidak bermanfaat baginya.” (HR. Al-Baihaqi). Hadis ini menunjukkan bahwa ilmu harus dipandang sebagai amanah yang membawa tanggung jawab. Jika seseorang tidak mengamalkannya, maka ilmu tersebut bisa menjadi beban yang memberatkan pada hari akhirat. Maka, untuk memanfaatkan ilmu secara maksimal, seseorang perlu memperkuat niat dan kesadaran untuk menerapkan ilmu tersebut secara konsisten dan ikhlas.

Mengamalkan ilmu juga merupakan salah satu bentuk syukur kepada Allah SWT. Sebagai hamba-Nya, ketika kita mendapatkan ilmu, kita diperintahkan untuk menunjukkan rasa syukur dengan menggunakan ilmu tersebut dalam perbuatan yang baik. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ilmu yang bermanfaat akan menjadi salah satu amal yang terus mengalir pahalanya bahkan setelah kita meninggal dunia. Jadi, dengan mengamalkan ilmu, kita sebenarnya sedang menanam investasi pahala yang akan memberi manfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat luas.

Ketika kita melihat orang yang tidak mengamalkan ilmu yang dimilikinya, maka sikap terbaik yang bisa kita ambil adalah memberi nasihat secara bijaksana dan penuh kasih sayang. Menasihati tanpa menghakimi dapat membantu mereka menyadari pentingnya mempraktikkan ilmu yang mereka miliki. Rasulullah SAW bersabda: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ “Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim). Menasihati orang lain untuk mengamalkan ilmu adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban seorang Muslim. Kita bisa memberikan contoh nyata dengan mengamalkan ilmu kita sendiri sehingga bisa menjadi teladan yang baik bagi mereka.

Pada akhirnya, ilmu sejati adalah ilmu yang membawa perubahan positif dan mendekatkan kita kepada Allah SWT. Menjadi seorang yang berilmu bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi juga bagaimana kita mempraktikkannya dalam tindakan nyata. Mengamalkan ilmu adalah tanda akhlak yang baik dan ketulusan dalam beragama, serta wujud nyata dari implementasi nilai-nilai ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari.

Sekian dari saya dan sebagai penutup, memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari dengan bijaksana merupakan bentuk tanggung jawab dan amanah yang harus kita jalani. Islam mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya untuk dipelajari, tetapi juga untuk diamalkan agar membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Menghindari praktik-praktik yang tidak jujur seperti KKN dalam pencarian pekerjaan adalah bagian dari menjaga integritas diri, dan mematuhi prinsip keadilan yang diajarkan oleh agama.

Mengamalkan ilmu yang dimiliki adalah cara kita menunjukkan rasa syukur atas karunia Allah SWT sekaligus menjadikan ilmu tersebut sebagai ladang pahala yang terus mengalir. Dengan demikian, kita bukan hanya menjaga nilai-nilai islam tetapi juga membangun pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat luas.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga akhlak yang baik, memanfaatkan ilmu dengan sebaik-baiknya, dan senantiasa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita jadikan ilmu sebagai bekal yang membawa kita menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Amin ya rabbal alamin.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar